15.1.07

Dirikanlah Shalat!

Sangat pentingnya Shalat & begitu tingginya nilai serta kedudukan amalan Shalat
  • Amalan atau ibadah yang wajib (harus) dilaksanakan dalam segala situasi dan keadaan;
  • Amalan yang pertama dihisab Allah ta'ala;
  • Perintah shalat tidak diturunkan melalui perantara Jibril (wahyu) tapi langsung dari Allah kepada Rasul-Nya;
  • Shalat adalah wasiat terakhir rasulullah shallallahu'alaihi wasallam sebelum Beliau wafat;
  • Pembeda antara orang muslim dengan kekafiran;
    Dari Jabir r.a., dia bercerita, ”Aku pernah mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda, ”Pemisah antara seseorang dengan syirik dan kekufuran adalah perbuatan meninggalkan shalat"" (HR Muslim)
  • Nilai shalat 2 rakaat sebelum subuh lebih baik daripada dunia dan seisinya;
    "Dua raka'at shalat fajr (sebelum subuh) lebih baik dari pada dunia dan seisinya." (HR Muslim)
  • ...
Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku. (QS Thaahaa: 14)


SHALAT KHUSYU'

Di dalam surat Al-Mu'minun disebutkan beberapa ciri orang beriman. Salah satunya adalah apabila shalat, maka shalatnya itu khusyu'. Kutipannya sebagai berikut:
Telah beruntunglah orang-orang yang beriman, yaitu mereka yang di dalam shalatnya khusyu'. (QS Al-Mu'minun: 1-2)
Apabila kita buka kitab tasfir untuk mengetahui apa latar belakang turunnya ayat ini, kita dapati bahwa Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam dan beberapa shahabat sebelumnya pernah melakukan gerakan tertentu di dalam shalatnya, lalu diarahkan agar tidak lagi melakukannya. Bentuk arahannya adalah menerapkan shalat yang khusyu'.
Dari Abi Hurairah ra berkata bahwa dahulu Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam bila shalat mengarahkan pandangannya ke langit. Maka turunlah ayat: yaitu orang yang di dalam shalatnya khusyu'. Maka beliau menundukkan pandangannya. (HR Al-Hakim)
Ibnu Maradawaih meriwayatkan bahwa sebelumnya beliau shallallahu'alaihi wasallam menoleh saat shalat. Saad bin Manshur dari Abi Sirin meriwayatkan secara mursal bahwa beliau shallallahu'alaihi wasallam sebelumnya shalat dengan memejamkan mata, lalu turunlah ayat ini. Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dengan mursal bahwa para shahabat dahulu pernah shalat dengan memandang ke langit lalu turunlah ayat ini.

Lihat tafsir Al-Baidhawi halaman 451 dan tasfir Al-Munir oleh Dr. Wahbah Az-Zuhaili jilid 18 halaman 10.

Khusyu' bukan keluar dari dunia nyata!

Dari tafsir tentang ayat khusyu' di atas jelaslah bahwa taujih (arahan) rabbani dari Allah ta'ala tentang shalat khusyu' bukan lantaran nabi shallallahu'alaihi wasallam tidak melakukan kontemplasi dalam shalat, melainkan karena beliau dan para shahabat melakukan gerakan-gerakan yang dianggap tidak layak untuk dilakukan di dalam shalat. Seperti memandang ke langit, memejamkan mata atau menoleh ke kanan dan ke kiri.

Adapun masalah kontemplasi dan keterputusan hubungan saat shalat dengan dunia nyata, bukanlah hal yang dimaksud dengan khusyu' itu sendiri.

Dan ibarat seorang pengemudi di jalan raya, dikatakan khusyu' kalau dia konsentrasi dalam berkendaraan. Konsentrasi yang dimaksud tentu bukan berarti matanya tertutupatautelinganya disumbat sehingga tidak melihat atau mendengar apapun, agar konsentrasi.

Malah bila dia melakukan hal-hal di atas, besar kemungkinan akan terjadi kecelakaan di jalan. Sebab apa yang dilakukannya bukan konsentrasi, melainkan menutup diri dari semua petunjuk dan lalu lalang di jalan raya.

Maka seorang yang shalat dengan khusyu' bukanlah orang yang shalat dengan menutup mata, menutup telinga dan menutup diri dari keadaan lingkungan sekitarnya. Sebaliknya, justru orang yang shalatnya khusyu' itu adalah orang yang sangat peduli dan sadar atas apa yang terjadi pada dirinya, lingkungannya serta situasi yang ada saat itu.

Siapa sih orang yang paling khusyu' shalatnya di dunia ini? Pasti kita sepakat menjawab bahwa nabi Muhammad shallallahu'alaihi wasallam adalah orang yang paling khusyu' dalam shalat. Maka definisi dan standarisasi khusyu' yang benar hanyalah semata-mata yang paling sesuai dengan shalat Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam.

Kita tidak dibenarkan untuk membuat definisi dan standar shalat khusyu' sendiri menurut logika serta khayal kita. Sebab nanti akan muncul ribuan bahkan jutaan definisi shalat khusyu' yang sangat beragam, bahkan satu dengan lainnya saling bertolak-belakang.

Padahal satu-satunya rujukan dalam masalah shalat hanyalah apa yang pernah dikerjakan oleh Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam. Bahkan Beliau tegaskan lagi dengan sabdanya,
"Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat!" (HR Bukhari)
Maka gambaran shalat khusyu' itu perlu kita pahami secara lebih luas, tidak terbatas pada bentuk-bentuk yang selama ini umumnya dipahami orang. Sebab kenyataannya begitu banyak fakta yang menunjukkan bahwa Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam melakukan shalat dengan berbagai keadaan, diantaranya:
Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam pernah shalat sambil menggendong bayi; Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam pernah memperlama sujudnya, karena ada cucunya yang naik ke atas punggungnya; Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam pernah mempercepat shalatnya saat menjadi imam, hanya lantaran beliau mendengar ada anak kecil menangis; Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam memerintahkan orang yang shalat untuk mencegah seseorang lewat di depannya, bahkan menghalanginya; Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam pernah memerintahkan orang yang shalat untuk membunuh ular serta hewan liar lainnya; Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam saat menjadi imam pernah lupa gerakan shalat tertentu, bahkan salah menetapkan jumlah bilangan rakaat, sehingga beliau melakukan sujud sahwi; Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam mensyariatkan fath kepada makmum bila mendapati imam yang lupa bacaan atau gerakan, sedangkan buat jamaah wanita cukup dengan bertepuk tangan; Rasululah shallallahu'alaihi wasallam mengajarkan shalat khauf dengan berjamaah yang gerakannya sangat unik dan jauh dari kesan khusyu'; Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam pernah melakukan shalat di atas kendaraan (hewan tunggangan/ unta) yang berjalan, baik shalat wajib maupun shalat sunnah, beliau membiarkan tunggangannya menghadap kemana pun; Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam pernah memindahkan tubuh atau kaki isterinya saat sedang shalat karena dianggap menghalangi tempat shalatnya; Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam mengajarkan orang yang shalat untuk menjawab salam dengan isyarat.
Dengan semua fakta di atas, masihkah kita akan mengatakan bahwa shalat khusyu' itu harus selalu berupa kontemplasi ritual tertentu? Haruskah shalat khusyu' itu membuat pelakunya seolah meninggalkan alam nyata menuju alam ghaib tertentu, lalu bertemu Allah ta'ala seolah pergi menuju sidratil muntaha bermikraj? Benarkah shalat khusyu' itu harus membuat seseorang tidak ingat apa-apa di dalam benaknya, kecuali hanya ada wujud Allah saja? Benarkah shalat khusyu' itu harus membuat seseorang bersatu kepada Allah ta'ala?

Kalau kita kaitkan dengan realita dan fakta shalat nabi shallallahu'alaihi wasallam sendiri, tentu semua asumsi itu menjadi tidak relevan, sebab nabi yang memang tugasnya mengajarkan kita untuk shalat, ternyata shalatnya tidak seperti yang dibayangkan.

Beliau tidak pernah 'kehilangan ingatan' saat shalat. Beliau shallallahu'alaihi wasallam tidak pernah memanjangkan shalat saat jadi imam shalat berjamaah, kecuali barangkali hanya pada shalat shubuh, karena fadhilahnya.

Kalaupun diriwayatkan beliau pernah shalat sampai bengkak kakinya, maka itu bukan shalat wajib, melainkan shalat sunnah. Dan panjangnya shalat beliau bukan karena beliau asyik 'meninggalkan alam nyata' lantaran berkontemplasi, namun karena beliau membaca ayat-ayat Al-Quran dengan jumlah lumayan banyak. Tentunya dengan fasih dan tartil, sebagaimana yang Jibril ajarkan.

Bahkan beliau pernah membaca surat Al-Baqarah (286 ayat), surat Ali Imran (200 ayat) dan An-Nisa (176ayat) hanya dalam satu rakaat. Untuk bisa membaca ayat Quran sebanyak itu, tentu seseorang harus ingat dan hafal apa yang dibaca, serta tentunya memahami makna dan nilai-nilai yang terkandung di dalam tiap ayat itu. Kalau yang membacanya sibuk 'berkontemplasi dengan dunia ghaib', maka tidak mungkin bisa membaca ayat sebanyak itu.

Maka shalat khusyu' itu adalah shalat yang mengikuti nabi shallallahu'alaihi wasallam, baik dalam sifat, rukun, aturan, cara, serta semua gerakan dan bacaannya. Bagaimana nabi shallallahu'alaihi wasallam melakukan shalat, maka itulah shalat khusyu'.

Ahmad Sarwat, Lc


Tentang Shalat Khusyu' dari berbagai sumber:
"...dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku" Q20.14
  1. Mengingat & mengagungkan Allah ta'ala, Zat Yang Maha Besar yang sedang kita sembah & ibadahi serta menghilangkan & mengecilkan apa-apa yang hadir dalam hati selain Allah ta'ala Yang Maha Besar. Inilah salah satu hikmah disyari'atkannya takbiratul ihram & bacaan takbir Allahu Akbar dalam setiap perpindahan gerak dalam shalat, seolah-olah terus mengingatkan akan keagungan Allah ta'ala yang sedang kita ibadahi.
  2. Keimanan yang sempurna akan negeri akhirat yang haq dengan keabadian surga dan nerakanya bisa mengecilkan hal-hal duniawi yang hadir dalam hati ketika kita shalat.
  3. Sadar dengan menghadirkan hati. Sadar bahwa kita sedang shalat, kita sedang berkomunikasi dengan Sang Khalik, Zat yang telah menciptakan diri-diri kita, Zat Yang Maha Agung, Zat Yang Maha Sempurna.
  4. Tahu & faham arti setiap bacaan yang kita ucapkan di dalam shalat. Dengan mengucapkan "Alhamdulillaahi Rabbil'alamiin..." Kita tahu, sadar dan meyakini dalam hati bahwa "Segala puji hanya milik Allah ta'ala, Rabb semesta alam...".
  5. Menghilangkan hal-hal yang bisa mengurangi ke-khusyu'-an shalat misalnya menahan lapar, menahan buang air kecil dst... 
  6. Khusyu' tidaklah wajib tapi merupakan keutamaan dalam shalat!


TATA CARA WUDHU & SHALAT (dari YouTube)






Baca juga:

Renungan:
Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a., dia berkata bahwa Rasulullah s.a.w. bersabda: "Sesungguhnya salat yang paling berat bagi orang munafik adalah shalat Isya’ dan shalat Subuh. Sekiranya mereka mengetahui apa yang terkandung di dalamnya, niscaya mereka akan mendatangi keduanya sekalipun dengan merangkak." (HR Bukhari & Muslim)
Pada hari ketika betis disingkapkan dan mereka dipanggil untuk bersujud; maka mereka tidak kuasa, (dalam keadaan) pandangan mereka tunduk ke bawah, lagi mereka diliputi kehinaan. Dan sesungguhnya mereka dahulu (di dunia) diseru untuk bersujud, dan mereka dalam keadaan sejahtera" (QS al Qalam 42-43)
Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya, kecuali golongan kanan, berada dalam surga, mereka saling bertanya, tentang keadaan orang orang yang berdosa. “Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Neraka Saqar?" Mereka menjawab, ”Kami dahulu tidak termasuk orang orang yang mengerjakan shalat, dan kami tidak pula memberi makan orang miskin, dan kami membicarakan yang batil, bersama dengan orang orang yang membicarakannya, dan kami mendustakan hari pembalasan" (QS Al Muddatsir 38-46)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar