19.1.07

Tauhid First!

MAKNA SYAHADAT

Laailahaillallah

Kalimat Laailahaillallah mempunyai kedudukan yang agung. Ia memiliki aturan, syarat-syarat, makna khusus & konsekuensi. Barang siapa yang mengucapkan dengan jujur maka Allah akan memasukannya dalam surga & barang siapa yang mengucapkannya dengan dusta maka darah & hartanya masih terjaga di dunia akan tetapi kelak di akhirat hisabnya diserahkan kepada Allah Ta’ala.
Maka sesungguhnya Allah mengharamkan atasnya neraka bagi orang yang mengucapkan Laailahaillallah karena mengharapkan wajah Allah” (HR Bukhari & Muslim)
Kalimat ini pendek lafadznya, sedikit hurufnya & ringan diucapkan, namun memiliki bobot yang sangat berat di dalam timbangan keadilan. Ibnu Hibban & Al Hakim telah meriwayatkan dari Abu Sa’id Al Khudri bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
Musa pernah berkata wahai Tuhanku, ajarilah aku sesuatu yang dapat aku pakai untuk ingat kepada-Mu & do’a kepada-Mu, Allah berfirman: Wahai Musa ucapkanlah ‘Laailahaillallah’, Musa berkata: Semua hamba-Mu mengucapkan hal ini. Allah berfirman: Wahai Musa seandainya tujuh langit & penghuninya selain Aku & tujuh bumi ini di salah satu timbangan & Laailahaillallah diletakkan di daun timbangan lainnya, niscaya Laailahaillallah akan lebih berat dari itu semua” (HR Hakim & Ibnu Hibban dalam Maurid Adh Dhom’an)
Hadist ini menunjukkan Laailahaillallah merupakan dzikir yang paling utama. Sebagaimana yang ditegaskan oleh hadist dari Abdullah Ibnu Umar, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
Sebaik-baik do’a adlah do’a di hari ‘arafah & sebaik-baik do’a yang aku ucapkan demikian pula para nabi sebelumku adalah do’a Laailahaillallah wahdahu laa syarikalah, lahulmulku walahul hamdu wahuwa ‘ala kuli syai-in qadiir (Tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah Yang Esa tidak ada sekutu baginya, milik-Nya segala kekuasaan & pujian & Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu)” (HR Ahmad & Tirmidzi dalam Ad Da’awat No. 3579)
Diantara dalil yang juga menunjukkan Laailahaillallah memiliki bobot yang sangat berat di dalam timbangan keadilan adalah hadist yang diriwayatkan oleh Tirmidzi, ia menghasankannya An Nasa’I & Al Haakim, ia berkata hadist ini shahih atas syarat Imam Muslim dari Abdullah bin ‘Amr, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
Akan dipanggil seorang dari umatku di atas para pemuka makhluk pada hari kiamat kemudian dibentangkan baginya 99 sijjil (catatn amal) masing-masing sijjil sepanjang pan&gan mata. Lalu dikatakan kepadanya: ‘Apa kamu mengingkari hal ini?’ Ia menjawab: ‘Tidak wahai tuhanku’. Ia ditanya apa kamu punya alasan lain atau kebajikan?’ Dengan rasa takut ia menjawab: ‘Tidak punya.’ Lalu ia diberi tahu: ‘Sesungguhnya kamu memiliki beberapa kebajikan di sisi Kami & kamu tidak akan didzalimi sedikitpun kemudian dikeluarkan baginya sebuah bithaqah (kartu ucapan amal) yang di dalamnya tertulis -Asyhadu anlaailaha illallah wa asyhadu anna muhammadarrasulullah-‘ Maka ia berkata: ‘Wahai tuhanku apa maksud dari bithaqah & sijjil ini?’ Dikatakan kepadanya: ‘Engkau tidak akan didzalimi sedikitpun’. Lalu sijjil-sijjil itu diletakkan di salah satu daun timbangan & bithaqah di daun timbangan lainnya, tiba-tiba sijjil itu menjadi ringan se&gkan bithaqah malah tambah berat.” (HR Tirmidzi No. 2641 dalam Al Imaan, Al hakim (1/5-6) & selain keduanya)
Kalimat Laailahaillallah memiliki 2 (dua) rukun, yaitu:
  1. Annafyu artinya meniadakan seluruh sesembahan selain Allah Ta’ala
  2. Al Itsbaat artinya menetapkan bahwa yang berhak disembah hanyalah Allah Ta’ala saja.
Kalimat Laailahaillallah tidak bermanfaat bagi orang-orang yang mengucapkannya kecuali dengan memenuhi 7 (tujuh) persyaratan, yaitu:
  1. Al Ilmu artinya mengetahui maknanya.
  2. Al Yakin artinya meyakini sepenuhnya kebenaran kalimat itu tanpa ragu & bimbang sedikitpun.
  3. Al Ikhlas artinya ikhlas tanpa disertai kesyirikan sedikitpun.
  4. Ash Shidqu artinya jujur tanpa disertai sifat kemunafikan.
  5. Al Mahabbah artinya mencintai kalimat ini & segala konsekuensinya serta merasa gembira dengan hal itu.
  6. Al Inqiyaad artinya tunduk & patuh melaksanakan hak-hak kalimat ini dengan cara melaksanakan kewajiban atas dasar ikhlas & mencari ridha Allah, ini termasuk konsekuensinya.
  7. Al Qabuul artinya apa adanya tanpa menolak, hal ini dibuktikan dengan melaksanakan perintah & meninggalkan larangan Allah.
Al Imam Ibnu Rajab berkata: “Dari sini jelaskah bahwa ucapan-ucapan hamba Laailahaillallah merupakan pengakuan ia tidak memiliki sesembahan selain Allah. Sedangkan makna Al Ilaahu adalah zat yang dita’ati & tidak dimaksiati disertai rasa takut, memuliakan, mencintai, mengharap, tawakkal, meminta & berdo’a kepada-Nya. Ini semuanya tidak pantas diberikan kecuali hanya untuk Allah. Walhasil, bahwa orang yang mengucapkan kalimat tauhid Laailahaillallah harus mengetahui maknanya & mengamalkan konsukuensinya secara lahir & bathin”.

Dari keterangan di atas jelaslah bagi kita bahwa makna ‘Laailahaillallah’ adalah ‘Tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah’. Adapun menafsirkan kalimat Laailahaillallah dengan makna ‘Tidak ada pencipta kecuali Allah’, ‘Tidak ada yang mengatur kecuali Allah’, ‘Tidak ada tuhan kecuali Allah’ adalah kurang & menyelisihi Quran & Sunnah.

Juga diantara konsekuensi Laailahaillallah adalah menerapkan nama-nama & sifat-sifat Allah yang telah ditetapkan oleh Allah & Rasul-Nya.



Muhammadarrasulullah

Konsekuensi dari syahadat …Muhammadarrasulullah adalah:

1. Mentaati perintahnya.
Hai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah & Rasul-Nya, & janganlah kamu berpaling dari-Nya, sedang kamu mendengar (perintah-perintahnya)” (Q8.20)

Katakanlah: Taatlah kepada Allah & taatlah kepada Rasul, & jika kamu berpaling maka sesungguhnya kewajiban rasul hanyalah apa yang dibebankan kepadanya, kewajiban kamu adalah apa yang dibebankan kepadamu. & jika kamu taat kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk. & tiada lain kewajiban rasul hanya menyampaikan (amanat Allah) dengan terang.” (Q24.54)

Setiap umatku akan masuk ke dalam syurga, kecuali yang enggan. Mereka berkata siapakah yang enggan ya Rasulullah? Beliau menjawab: Siapa yang mentaatiku maka ia akan masuk syurga & siapa yang mendurhakaiku, maka dialah yang enggan.” (HR Bukhari)
2. Membenarkan apa yang di kabarkannya.
Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. & apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah, & bertaqwalah kepada Allah sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya.” (Q59.7)

Aku diperintah untuk memerangi manusia sampai mereka bersaksi tak ada yang berhak disembah kecuali Allah & sampai mereka percaya kepadaku & apa yang aku bawa” (HR Muslim)
Allah mengancam dengan neraka Sa’iir bagi mereka yang tidak percaya terhadap apa yang dikabarkannya,
“& barangsiapa yang tidak beriman kepada Allah & Rasul-Nya maka sesungguhnya Kami menyediakan untuk orang-orang yang kafir neraka yang bernyala-nyala.” (Q48.13)
Abu Bakar Ash-Shiddiq: “Aku tidaklah meninggalkan apa yang diperintahkan oleh Rasul kecuali akan aku kerjakan & aku takut jika meninggalkan satu saja & perintah Rasul maka kebinasaan akan menimpaku”.

3. Meninggalkan apa yang dilarangnya tanpa ada sifat ragu.

Ada yang mengatakan: “O... hukum ini tidak ada dalam Al-quran” sebagaimana yang dilakukan oleh Inkaarus Sunnah.

Sesungguhnya As-Sunnah itu adalah menafsirkan & menjelaskan Al Quran sebagaimana firman Allah ta’ala:
“& Kami turunkan kepadamu al-Quran, agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka supaya mereka memikirkan” (Q16.44)
Dari Miqdam bin Ma’di Yakrib Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
Ketahuilah bahwa aku diberikan Al Quran & sepertinya bersamanya (yaitu Assunah)”.
Salah satu contoh pentingnya As-Sunnah untuk memahami Al Quran:
Katakanlah: Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah di keluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya & (siapa pulakah yang rnengharamkan) rezeki yang baik. Katakanlah: Semuanya itu (disediakan) bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, khusus (untuk mereka saja) di hari kiamat. Demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi orang-orang yang mengetahui.” (Q7.32)
4. Tidak beribadah kepada Allah melainkan dengan cara yang telah disyariatkan.

Allah telah menyempumakan agamanya, wahyu telah terputus & kenabian telah ditutup sebagaimana firman Allah:
Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu & telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku & telah Kuridhai Islam itu jadi agamamu“ (QS A1-Maidah 3)
5. Syahadat ini juga memiliki konsekuensi yaitu tidak meyakini bahwa nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam memiiki sifat rububiyyah yang punya pengaruh di alam semesta & tidak berhak disembah.

Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam hanyalah seorang hamba, seorang Rasul yang tidak didustakan & seorang hamba yang tidak mampu mendatangkan mamfaat atau menolak mudharat bagi dirinya atau orang lain kecuali atas izin & kehendak Allah.
Katakanlah: “Aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, & tidak (pula) aku mengetahui yang ghaib & tidak (pula) aku mengatakan kepadamu bahwa aku ini malaikat. Aku tidak mengikuti kecuali apa yang telah diwahyukan kepadaku. Katakanlah: “Apakah sama orang yang buta dengan orang yang melihat”. Maka apakah kamu tidak memikirkan(nya). (Q6.50)
Hendaknya kita menempatkan nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam pada kedudukan & martabat yang telah Allah berikan kepadanya yaitu sebagai hamba & utusan.

Semoga salawat & salam tetap tercurah kepad Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam, keluarganya, para sahabatnya dan kita semua para pengikutnya sampai akhir zaman...

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar