Jumat, Maret 14

Ibadah dalam Islam

Pemahaman seseorang tentang ibadah kadang terbatas pada aktivitas yg bersifat ritual saja seperti shalat, puasa, zakat dsb... Apa makna & syarat diterimanya ibadah? Dan bagaimana suatu pekerjaan atau perbuatan (hal yang halal atau mubah di luar peribadatan) itu bisa bernilai ibadah di sisi Allah swt?

Tujuan Penciptaan Manusia
Seseorang yg ditugaskan di suatu pos, tentu ia harus mengetahui apa sebenarnya tujuan ia ditempatkan di pos tersebut. Demikian pula dengan manusia, sudah sewajibnya kita tahu apa tujuan Allah swt menciptakan kita...

"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi (menyembah) kepada-Ku". (QS. 51:56).

Kini jelaslah, bahwa tujuan penciptaan manusia dan jin hanyalah untuk mengabdi & menyembah Allah, beribadah kepada Allah semata.

Makna Ibadah
Secara bahasa ibadah berarti tunduk dan taat. Sedangkan menurut istilah, ibadah berarti segala perkataan dan perbuatan yang dicintai serta diridhai Allah swt, baik yg bersifat lahir (nampak) maupun bathin (tersembunyi).

Namun ada sebagian orang yg kurang benar dalam memahami arti dari ibadah. Mereka menganggap ibadah hanyalah terbatas pada ibadah ritual yg tercantum dalam rukun Islam, yaitu syahadat, shalat, puasa, zakat dan haji. Padahal sebenarnya ibadah sendiri tidak mempunyai arti sesempit itu. Sebaliknya rukun Islam inilah yg seharusnya menjadi titik tolak bagi seorang muslim dalam merealisasikan ibadah dalam seluruh aspek kehidupannya.

Muhammad Quthb dalam sebuah bukunya menuliskan: "Perasaan seorang muslim dalam perjalanan mencari rizki, mencari ilmu, mengupayakan kemakmuran bumi dan setiap aktivitas fisik, akal dan jiwanya adalah (bisa bernilai) ibadah. (Nilai) Ibadah yg dilaksanakan dengan keikhlasan yg sama dengan keikhlasan untuk melaksanakan (ibadah) shalat." Ternyata menuntut ilmu, mendidik & membesarkan anak, bekerja keras mencari nafkah untuk keluarga, bahkan menyingkirkan duri dari jalanan pun bisa mempunyai nilai ibadah. Tentunya ada syarat-syarat tertentu, hingga sesuatu yg kita kerjakan dinilai Allah sebagai ibadah.

Syarat Diterimanya Ibadah
Tiga syarat yg harus dipenuhi agar ibadah kita diterima Allah swt:

  1. Lillah, yaitu niat yg ikhlash, niat hanya karena Allah swt semata, niat hanya untuk mencari keridhaan Allah swt.
  2. Billah, yaitu pelaksanaannya seperti yg diperintahkan Allah dan yg dicontohkan oleh Rasulullah (ittiba'). Misalnya, kita mecontoh bagaimana Rasulullah shalat, puasa, bersillaturrahiim, bertetangga, bertutur kata, memimpin umat dan sebagainya.
  3. Illallaah, yaitu dengan tujuan hanya untuk mencari keridhaan Allah semata. Firman Allah: Dan di antara manusia ada orang yg mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya. (QS. 2:207)
Jika salah satu saja syarat di atas tidak terpenuhi dalam melaksanakan peribadatan kepada Allah swt, maka ibadah tersebut tertolak dan tidak bernilai ibadah di sisi Allah swt.

Bekerja & Mengerjakan Hal yang Mubah Bisa Bernilai Ibadah di Sisi Allah SWT
Melaksanakan suatu aktivitas kebaikan (hal yang halal atau mubah) di luar peribadatan misalnya bekerja mencari nafkah, maka syarat minimal yg harus terpenuhi agar pekerjaan tersebut dapat bernilai ibadah di sisi Allah swt adalah memenuhi persyaratan ‘lillah’ yaitu niat yang ikhlash, niat untuk menafkahi keluarga, niat mencari rezeki yang baik & halal, ...niat untuk mencari keridhaan Allah swt.

Rasulullah saw bersabda: "Bahwasanya segala amal perbuatan itu tergantung pada niat..." (HR. Bukhari-Muslim).

Contoh, seseorang yg pergi bekerja dengan niat hanya untuk mencari dunia semata atau untuk menumpuk harta semata tanpa dibarengi niat yg lebih dari itu, yaitu niat ikhlash atau niat untuk menafkahi anak dan istri dengan rizki yg baik & halal, maka gugurlah nilai ibadah dari usaha kerja tersebut walaupun dia berhasil memperoleh apa yg dia inginkan atau niatkan yaitu uang atau harta.

Makan juga akan bernilai ibadah jika kita niatkan bahwa dengan makan maka kita akan menjadi sehat dan kuat sehingga kita akan selalu siap untuk beraktivitas, berfikir dan beribadah dengan baik.

Maka... Jangan sia-siakan segala bentuk aktifitas kebaikan kita sehari-hari walau hanya menyingkirkan duri dari jalanan, ber-niatlah-lah dengan ikhlash, maka insya allah semua aktivitas kita bisa bernilai ibadah & pahala di sisi Allah swt. Dan jangan lupa ucapkanlah basmallah atau do'a-do'a yang dicontohkan Rasulullah saw.

Taqwa adalah tujuan Ibadah.
"Hai manusia, sembahlah Rabb-mu Yg telah menciptakanmu dan orang-orang yg sebelummu, agar kamu bertaqwa". (QS. 2:21)

Ayat tersebut menerangkan bahwa tujuan dari ibadah adalah untuk membentuk insan yg bertakwa. Jika ibadah itu tidak menghasilkan takwa, maka perlu ditinjau kembali kebenaran niat & pelaksanaan ibadah tersebut. Apakah sudah benar ia berniat dengan ikhlash mencari ridho Allah, apakah cara pelaksanaannya sudah sesuai dengan petunjuk Allah dan Rasulullah, dsb. Hasil dari takwa seorang muslim yg telah mampu mencapai derajat takwa akan diberi Allah beberapa hal, diantaranya:

  1. Furqan, yaitu pembeda antara yg haq dan yg bathil. "Hai orang- orang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepadamu furqaan ..." (QS. 8:29). Banyak orang yg kini melihat sesuatu yg bathil itu seperti yg haq dan sebaliknya sesuatu yg haq itu seperti yg bathil hingga terjadi percampuran antara haq & kebathilan. Disinilah urgensi furqaan, yg dengannya kita dapat membedakan dan melihat dengan jelas bahwa sesuatu yg haq itu haq dan yg bathil itu bathil.
  2. Jalan keluar, rizki dan kemudahan. "...Barangsiapa yg bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yg tidak disangka-sangkanya ... Dan barangsiapa yg bertaqwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya". (QS. 65:2,3,4). Misalnya sebuah keluarga berada dalam kesulitan ekonomi. Tiba-tiba secara tidak disangka-sangka keluarga tersebut mendapat hadiah yg dapat mereka gunakan untuk meringankan beban ekonomi tersebut. Inilah rizki yg Allah janjikan bagi orang yg bertakwa.
  3. Berkah atau kebaikan yg banyak. "Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, ..." (QS. 7:96). Sepiring makanan yg mempunyai berkah akan dapat mengenygkan sekeluarga. Sebalik-nya, makanan yg tidak mengandung berkah tidak akan dapat mengenygkan, walaupun hanya satu orang.
  4. Ampunan & Surga. Dan bersegera-lah kamu kepada ampunan dari Rabbmu dan kepada surga yg luasnya seluas langit dan bumi yg disediakan untuk orang-orang yg bertaqwa, (QS. 3:133) Selain itu masih banyak lagi hasil dari takwa yg disebutkan dalam Al-Quran. Siapakah yg ingin mendapat anugerah tersebut? Berusahalah menjadi manusia yg bertakwa dengan jalan taat beribadah kepada-Nya.

Dari berbagai sumber,
Wallahu 'alam


Sedikit tentang Bid'ah (Harus disampaikan!)…
Bid'ah adalah hal-hal baru dalam perkara agama (ibadah) atau amalan-amalan yang disandarkan kepada Islam, padahal Islam sama-sekali tidak mengajarkan hal-hal tsb dan Rasulullah saw atau para sahabat Beliaupun tidak mencontohkannya.

Janganlah kamu sekalian mengada-adakan urusan-urusan yang baru (dalam hal ibadah), karena sesungguhnya mengadakan hal yang baru ialah bid’ah, dan setiap bid’ah ialah sesat”. [Hadits Riwayat Abdu Daud, dan At-Tirmidzi; hadits hasan shahih].

Adapun hal-hal yang di luar perkara/amalan ibadah” selama tidak ada syari'at yang mengharamkannya adalah boleh-boleh saja atau halal-halal saja. Contohnya orang yang bepergian pakai mobil ataupun pesawat terbang silahkan saja. Jangan mengatakan bahwa, "Mobil adalah bid'ah karena dahulu zaman Rasulullah tidak ada mobil dan Beliau tidak naik mobil tapi naik unta". Pemahaman tersebut adalah keliru.

Dalil lainya…
Dari Ummul mukminin, Ummu ‘Abdillah, ‘Aisyah radhiallahu ‘anha, Ia berkata bahwa Rasulullah bersabda: “Barangsiapa yang mengada-adakan sesuatu dalam urusan agama kami ini yang bukan dari kami, maka dia tertolak”. [Bukhari dan Muslim]

Dalam riwayat lain: “Barangsiapa melakukan suatu amal yang tidak sesuai urusan kami, maka dia tertolak”. [Bukhari no. 2697, Muslim no. 1718]

Dari Jabir bin Abdullah, bahwa Rasulullah SAW bersabda (dalam khutbah beliau), ”Amma ba’du, sesungguhnya perkataan yang paling baik adalah kitab Allah, sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad, dan seburuk-buruk perkara adalah yang baru (dibuat-buat dalam agama) dan setiap bid’ah adalah sesat” [Muslim]

Al Islam telah sempurna...
Allah swt telah menyempurnakan agama Islam. Segala perkara telah diatur dan disyari'atkan oleh Allah. Jadi, tak sesuatu yang yang baik, kecuali telah dijelaskan oleh Islam dalam Al-Quran dan Sunnah. Demikian pula, tak ada sesuatu yang buruk, kecuali telah diterangkan dalam Islam. Inilah kesempurnaan Islam yang dinyatakan dalam firman-Nya, "Pada hari Ini Telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan Telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan Telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu" [QS Al-Maidah: 3]

Catatan saya:
Sesungguhnya umatku akan terpecah menjadi 73 golongan, satu golongan masuk syurga dan tujuh puluh dua golongan masuk (mampir dulu ke) neraka, lalu shahabat bertanya, “Ya Rasulullah, siapakah satu golongan itu?” Beliau menjawab, ”Golongan yang mengikuti jejakku dan jejak shahabatku”” (HR Tirmidzi)

Islam adalah agama untuk seluruh manusia di muka bumi ini dan bukan agamanya orang Jawa atau agamanya orang Indonesia saja. Ada beberapa pertanyaan yang layak kita renungi:

• Apakah orang muslim di Indonesia “pasti lebih baik ke-islamannya” dibanding dengan orang muslim di luar Indonesia (Timur Tengah dll)?
• Al Quran diturunkan Allah swt dalam bahasa Arab, begitu juga Hadits-hadits Rasulullah SAW juga dalam bahasa Arab. Apakah "kebanyakan" orang muslim di Indonesia menguasai bahasa Arab dengan baik?

Penafsiran yang salah dari Ulama adalah Pewaris Nabi banyak melahirkan distorsi-distorsi dari kemurnian Islam dan melanggengkan praktek-praktek ke-bid'ah-an.

See Download!

Minggu, Oktober 7

Dirikanlah Shalat! (Shalat Khusyu'?)

Pentingnya shalat & begitu tingginya nilai/kedudukan shalat
- Amalan/ibadah wajib yg tidak bisa ditawar-tawar;
- Amalan yg pertama dihisab Allah swt;
- Perintah shalat tidak diturunkan melalui perantara Jibril (wahyu) tapi langsung dari Allah kepada Rasul-Nya;
- Shalat adalah wasiat terakhir rasulullah saw sebelum Beliau wafat;
- Pembeda antara orang muslim dgn kekafiran adalah shalat;
- Nilai shalat 2 rakaat sebelum shalat wajib subuh lebih baik daripada dunia dan seisinya;
- ...

Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.
(QS. Thaahaa: 14)

Shalat Khusyu'
Di dalam surat Al-Mu'minun disebutkan beberapa ciri orang beriman. Salah satunya adalah apabila shalat, maka shalatnya itu khusyu'. Kutipannya sebagai berikut:

Telah beruntunglah orang-orang yg beriman, yaitu mereka yg di dalam shalatnya khusyu'. (QS. Al-Mu'minun: 1-2)

Apabila kita buka kitab tasfir untuk mengetahui apa latar belakang turunnya ayat ini, kita dapati bahwa Rasulullah SAW dan beberapa shahabat sebelumnya pernah melakukan gerakan tertentu di dalam shalatnya, lalu diarahkan agar tidak lagi melakukannya. Bentuk arahannya adalah menerapkan shalat yg khusyu'.

Dari Abi Hurairah ra berkata bahwa dahulu Rasulullah SAW bila shalat mengarahkan pandangannya ke langit. Maka turunlah ayat: yaitu orang yg di dalam shalatnya khusyu'. Maka beliau menundukkan pandangannya. (HR. Al-Hakim)

Ibnu Maradawaih meriwayatkan bahwa sebelumnya beliau SAW menoleh saat shalat. Saad bin Manshur dari Abi Sirin meriwayatkan secara mursal bahwa beliau SAW sebelumnya shalat dg memejamkan mata, lalu turunlah ayat ini. Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dg mursal bahwa para shahabat dahulu pernah shalat dg memandang ke langit. lalu turunlah ayat ini.

Lihat tafsir Al-Baidhawi halaman 451 dan Tasfir Al-Munir oleh Dr. Wahbah Az-Zuhaili jilid 18 halaman 10.

Khusyu' Bukan Keluar dari Dunia Nyata
Dari tafsir tentang ayat khusyu' di atas jelaslah bahwa taujih (arahan) rabbani dari Allah SWT tentang shalat khusyu' bukan lantaran nabi SAW tidak melakukan kontemplasi dalam shalat, melainkan karena beliau dan para shahabat melakukan gerakan-gerakan yg dianggap tidak layak untuk dilakukan di dalam shalat. Seperti memandang ke langit, memejamkan mata atau menoleh ke kanan dan ke kiri.

Adapun masalah kontemplasi dan keterputusan hubungan saat shalat dg dunia nyata, bukanlah hal yg dimaksud dg khusyu' itu sendiri.

Dan ibarat seorang pengemudi di jalan raya, dikatakan khusyu' kalau dia konsentrasi dalam berkendaraan. Konsentrasi yg dimaksud tentu bukan berarti matanya tertutupatautelinganya disumbat sehingga tidak meliaht atau mendengar apapun, agar konsentrasi.

Malah bila dia melakukan hal-hal di atas, besar kemungkinan akan terjadi kecelakaan di jalan. Sebab apa yg dilakukannya bukan konsentrasi, melainkan menutup diri dari semua petunjuk dan lalu lalang di jalan raya.

Maka seorang yg shalat dg khusyu' bukanlah orang yg shalat dg menutup mata, menutup telinga dan menutup diri dari keadaan lingkungan sekitarnya. Sebaliknya, justru orang yg shalatnya khusyu' itu adalah orang yg sangat peduli dan sadar atas apa yg terjadi pada dirinya, lingkungannya serta situasi yg ada saat itu.

Siapa sih orang yg paling khusyu' shalatnya di dunia ini? Pasti kita sepakat menjawab bahwa nabi Muhammad SAW adalah orang yg paling khusyu' dalam shalat. Maka definisi dan standarisasi khusyu' yg benar hanyalah semata-mata yg paling sesuai dg shalat beliau.

Kita tidak dibenarkan untuk membuat definisi dan standar shalat khusyu' sendiri menurut logika serta khayal kita. Sebab nanti akan muncul ribuan bahkan jutaan definisi shalat khusyu' yg sangat beragam, bahkan satu dg lainnya saling bertolak-belakang.

Padahal satu-satunya rujukan dalam masalah shalat hanyalah apa yg pernah dikerjakan oleh Rasulullah SAW. Bahkan beliau tegaskan lagi dg sabdanya, "Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat."

Maka gambaran shalat khusyu' itu perlu kita pahami secara lebih luas, tidak terbatas pada bentuk-bentuk yg selama ini umumnya dipahami orang. Sebab kenyataannya begitu banyak fakta yg menunjukkan bahwa Rasulullah SAW melakukan shalat dg berbagai keadaan, diantaranya:
Rasulullah SAW pernah shalat sambil menggendong bayi; Rasulullah SAW pernah memperlama sujudnya, karena ada cucunya yg naik ke atas punggungnya; Rasulullah SAW pernah mempercepat shalatnya saat menjadi imam, hanya lantaran beliau mendengar ada anak kecil menangis; Rasulullah SAW memerintahkan orang yg shalat untuk mencegah seseorang lewat di depannya, bahkan menghalanginya; Rasulullah SAW pernah memerintahkan orang yg shalat untuk membunuh ular serta hewan liar lainnya; Rasulullah SAW saat menjadi imam pernah lupa gerakan shalat tertentu, bahkan salah menetapkan jumlah bilangan rakaat, sehingga beliau melakukan sujud sahwi; Rasulullah SAW mensyariatkan fath kepada makmum bila mendapati imam yg lupa bacaan atau gerakan, sedangkan buat jamaah wanita cukup dg bertepuk tangan; Rasululah SAW mengajarkan shalat khauf dg berjamaah yg gerakannya sangat unik dan jauh dari kesan khusyu'; Rasulullah SAW pernah melakukan shalat di atas kendaraan (hewan tunggangan/ unta) yg berjalan, baik shalat wajib maupun shalat sunnah, beliau membiarkan tunggangannya menghadap kemana pun; Rasulullah SAW pernah memindahkan tubuh atau kaki isterinya saat sedang shalat karena dianggap menghalangi tempat shalatnya; Rasulullah SAW mengajarkan orang yg shalat untuk menjawab salam dg isyarat.

Dg semua fakta di atas, masihkah kita akan mengatakan bahwa shalat khusyu' itu harus selalu berupa kontemplasi ritual tertentu? Haruskah shalat khusyu' itu membuat pelakunya seolah meninggalkan alam nyata menuju alam ghaib tertentu, lalu bertemu Allah SWT seolah pergi menuju sidratil muntaha bermikraj? Benarkah shalat khusyu' itu harus membuat seseorang tidak ingat apa-apa di dalam benaknya, kecuali hanya ada wujud Allah saja? Benarkah shalat khusyu' itu harus membuat seseorang bersatu kepada Allah SWT?

Kalau kita kaitkan dg realita dan fakta shalat nabi SAW sendiri, tentu semua asumsi itu menjadi tidak relevan, sebab nabi yg memang tugasnya mengajarkan kita untuk shalat, ternyata shalatnya tidak seperti yg dibaygkan.

Beliau tidak pernah 'kehilangan ingatan' saat shalat. Beliau tidak pernah memanjangkan shalat saat jadi imam shalat berjamaah, kecuali barangkali hanya pada shalat shubuh, karena fadhilahnya.

Kalaupun diriwayatkan beliau pernah shalat sampai bengkak kakinya, maka itu bukan shalat wajib, melainkan shalat sunnah. Dan panjangnya shalat beliau bukan karena beliau asyik 'meninggalkan alam nyata' lantaran berkontemplasi, namun karena beliau membaca ayat-ayat Al-Quran dg jumlah lumayan banyak. Tentunya dg fasih dan tartil, sebagaimana yg Jibril ajarkan.

Bahkan beliau pernah membaca surat Al-Baqarah (286 ayat), surat Ali Imran (200 ayat) dan An-Nisa (176ayat) hanya dalam satu rakaat. Untuk bisa membaca ayat Quran sebanyak itu, tentu seseorang harus ingat dan hafal apa yg dibaca, serta tentunya memahami makna dan nilai-nilai yg terkandung di dalam tiap ayat itu. Kalau yg membacanya sibuk 'berkontemplasi dg dunia ghaib', maka tidak mungkin bisa membaca ayat sebanyak itu.

Maka shalat khusyu' itu adalah shalat yg mengikuti nabi SAW, baik dalam sifat, rukun, aturan, cara, serta semua gerakan dan bacaannya. Bagaimana nabi SAW melakukan shalat, maka itulah shalat khusyu'.
(Ahmad Sarwat, Lc.)


#Kata Aa Gym, tentang Shalat Khusyu':
1. Sadar dengan menghadirkan hati. Sadar bahwa kita sedang shalat, kita sedang berkomunikasi dengan Sang Khalik, Zat yang telah menciptakan diri-diri kita, Zat Yang Maha Agung, Zat Yang Maha Sempurna.
2. Tahu & faham arti setiap bacaan yang kita ucapkan di dalam shalat. Dengan mengucapkan "Alhamdulillaahi Rabbil'alamiin..." Kita tahu, sadar dan meyakini dalam hati bahwa "Segala puji hanya milik Allah swt, Rabb semesta alam...".
3. Mengagungkan Allah SWT, Zat Yang Maha Besar yg sedang kita ibadahi.
4. Menghilangkan hal-hal yang bisa mengurangi ke-khusyu'-an shalat misalnya menahan lapar, menahan buang air kecil dst...


#
Bacaan Sesudah Shalat 5 Waktu

Renungan Hadist:
Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a., dia berkata bahwa Rasulullah saw bersabda: "Sesungguhnya salat yg paling berat bagi orang munafik adalah shalat Isya’ dan shalat Subuh. Sekiranya mereka mengetahui apa yg terkandung di dalamnya, niscaya mereka akan mendatangi keduanya sekalipun dgn merangkak." (HR. Bukhari Muslim)

Makna Syahadat..?


A. Laailahaillallah

Kalimat Laailahaillallah mempunyai kedudukan yg agung. Ia memiliki aturan, syarat-syarat, makna khusus & konsekuensi. Barang siapa yg mengucapkan dgn jujur maka Allah akan memasukannya dalam surga & barang siapa yg mengucapkannya dgn dusta maka darah & hartanya masih terjaga di dunia akan tetapi kelak di akhirat hisabnya diserahkan kepada Allah Ta’ala.

Maka sesungguhnya Allah mengharamkan atasnya neraka bagi orang yg mengucapkan Laailahaillallah karena merapkan wajah Allah” (HR Bukhari & Muslim)

Kalimat ini pendek lafadznya, sedikit hurufnya & ringan diucapkan, namun memiliki bobot yg sangat berat di dalam timbangan keadilan. Ibnu Hibban & Al Hakim telah meriwayatkan dari Abu Sa’id Al Khudri bahwa Rasulullah SAW bersabda:

Musa pernah berkata wahai Tuhanku, ajarilah aku sesuatu yg dapat aku pakai untuk ingat kepada-Mu & do’a kepada-Mu, Allah berfirman: Wahai Musa ucapkanlah ‘Laailahaillallah’, Musa berkata: Semua hamba-Mu mengucapkan hal ini. Allah berfirman: Wahai Musa seandainya tujuh langit & penghuninya selain Aku & tujuh bumi ini di salah satu timbangan & Laailahaillallah diletakkan di daun timbangan lainnya, niscaya Laailahaillallah akan lebih berat dari itu semua” (HR Hakim & Ibnu Hibban dalam Maurid Adh Dhom’an)

Hadist ini menunjukkan Laailahaillallah merupakan dzikir yg paling utama. Sebagaimana yg ditegaskan oleh hadist dari Abdullah Ibnu Umar, Rasulullah bersabda:

Sebaik-baik do’a adlah do’a di hari ‘arafah & sebaik-baik do’a yg aku ucapkan demikian pula para nabi sebelumku adalah do’a Laailahaillallah wahdahu laa syarikalah, lahulmulku walahul hamdu wahuwa ‘ala kuli syai-in qadiir (Tidak ada yg berhak disembah kecuali Allah Yg Esa tidak ada sekutu baginya, milik-Nya segala kekuasaan & pujian & Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu)” (HR Ahmad & Tirmidzi dalam Ad Da’awat No. 3579)

Diantara dalil yg juga menunjukkan Laailahaillallah memiliki bobot yg sangat berat di dalam timbangan keadilan adalah hadist yg diriwayatkan oleh Tirmidzi, ia menghasankannya An Nasa’I & Al Haakim, ia berkata hadist ini shahih atas syarat Imam Muslim dari Abdullah bin ‘Amr, Rasulullah SAW bersabda:

Akan dipanggil seorang dari umatku di atas para pemuka makhluk pada hari kiamat kemudian dibentangkan baginya 99 sijjil (catatn amal) masing-masing sijjil sepanjang pan&gan mata. Lalu dikatakan kepadanya: ‘Apa kamu mengingkari hal ini?’ Ia menjawab: ‘Tidak wahai tuhanku’. Ia ditanya apa kamu punya alasan lain atau kebajikan?’ Dgn rasa takut ia menjawab: ‘Tidak punya.’ Lalu ia diberi tahu: ‘Sesungguhnya kamu memiliki beberapa kebajikan di sisi Kami & kamu tidak akan didzalimi sedikitpun kemudian dikeluarkan baginya sebuah bithaqah (kartu ucapan amal) yg di dalamnya tertulis -Asyhadu anlaailaha illallah wa asyhadu anna muhammadarrasulullah-‘ Maka ia berkata: ‘Wahai tuhanku apa maksud dari bithaqah & sijjil ini?’ Dikatakan kepadanya: ‘Engkau tidak akan didzalimi sedikitpun’. Lalu sijjil-sijjil itu diletakkan di salah satu daun timbangan & bithaqah di daun timbangan lainnya, tiba-tiba sijjil itu menjadi ringan se&gkan bithaqah malah tambah berat.” (HR Tirmidzi No. 2641 dalam Al Imaan, Al hakim (1/5-6) & selain keduanya)

Kalimat Laailahaillallah memiliki 2 (dua) rukun, yaitu:
1. Annafyu artinya meniadakan seluruh sesembahan selain Allah Ta’ala
2. Al Itsbaat artinya menetapkan bahwa yg berhak disembah hanyalah Allah Ta’ala saja.

Kalimat Laailahaillallah tidak bermanfaat bagi orang-orang yg mengucapkannya kecuali dgn memenuhi 7 (tujuh) persyaratan, yaitu:
1. Al Ilmu artinya mengetahui maknanya.
2. Al Yakin artinya meyakini sepenuhnya kebenaran kalimat itu tanpa ragu & bimbang sedikitpun.
3. Al Ikhlas artinya ikhlas tanpa disertai kesyirikan sedikitpun.
4. Ash Shidqu artinya jujur tanpa disertai sifat kemunafikan.
5. Al Mahabbah artinya mencintai kalimat ini & segala konsekuensinya serta merasa gembira dgn hal itu.
6. Al Inqiyaad artinya tunduk & patuh melaksanakan hak-hak kalimat ini dgn cara melaksanakan kewajiban atas dasar ikhlas & mencari ridha Allah, ini termasuk konsekuensinya.
7. Al Qabuul artinya apa a&ya tanpa menolak, hal ini dibuktikan dgn melaksanakan perintah & meninggalkan larangan Allah.

Al Imam Ibnu Rajab berkata: “Dari sini jelaskah bahwa ucapan-ucapan hamba Laailahaillallah merupakan pengakuan ia tidak memiliki sesembahan selain Allah. Se&gkan makna Al Ilaahu adalah zat yg dita’ati & tidak dimaksiati disertai rasa takut, memuliakan, mencintai, mengharap, tawakkal, meminta & berdo’a kepada-Nya. Ini semuanya tidak pantas diberikan kecuali hanya untuk Allah. Walhasil, bahwa orang yg mengucapkan kalimat tauhid Laailahaillallah harus mengetahui maknanya & mengamalkan konsukuensinya secara lahir & bathin”.

Dari keterangan di atas jelaslah bagi kita bahwa makna ‘Laailahaillallah’ adalah ‘Tidak ada yg berhak disembah kecuali Allah’. Adapun menafsirkan kalimat Laailahaillallah dgn makna ‘Tidak ada pencipta kecuali Allah’, ‘Tidak ada yg mengatur kecuali Allah’, ‘Tidak ada tuhan kecuali Allah’ adalah kurang & menyelisihi Al Quran & Sunnah.

Juga diantara konsekuensi Laailahaillallah adalah menerapkan nama-nama & sifat-sifat Allah yg telah ditetapkan oleh Allah & Rasul-Nya.


B. Muhammadarrasulullah

Konsekuensi dari syahadat …Muhammadarrasulullah adalah:

1. Mentaati perintahnya.
Hai orang-orang yg beriman, taatlah kepada Allah & Rasul-Nya, & janganlah kamu berpaling dari-Nya, sedang kamu mendengar (perintah-perintahnya)” (QS 8:20)

Katakanlah: Taatlah kepada Allah & taatlah kepada Rasul, & jika kamu berpaling maka sesungguhnya kewajiban rasul hanyalah apa yg dibebankan kepadanya, kewajiban kamu adalah apa yg dibebankan kepadamu. & jika kamu taat kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk. & tiada lain kewajiban rasul hanya menyampaikan (amanatAllah) dgn terang.” (QS 24:54)

Setiap umatku akan masuk ke dalam syurga, kecuali yg enggan. Mereka berkata siapakah yg enggan ya Rasululloh? Beliau menjawab: Siapa yg mentaatiku maka ia akan masuk syurga & siapa yg mendurhakaiku, maka dialah yg enggan.”

2. Membenarkan apa yg di kabarkannya.
Apa yg diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. & apa yg dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah, & bertaqwalah kepada Allah sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya.” (QS 59:7)

Aku diperintah untuk memerangi manusia sampai mereka bersaksi tak ada yg berhak di sembah kecuali Allah & sampai mereka percaya kepadaku & apa yg aku bawa” (HR Muslim)

Allah mengancam dgn neraka Sa’iir bagi mereka yg tidak percaya terhadap apa yg di kabarkannya, “& barangsiapa yg tidak beriman kepada Allah & Rasul-Nya maka sesungguhnya Kami menyediakan untuk orang-orang yg kafir neraka yg bernyala-nyala.” (QS 48:13)

Abu Bakar Ash-Shiddiq: “Aku tidaklah meninggalkan apa yg diperintahkan oleh Rasul kecuali akan aku kerjakan & aku takut jika meninggalkan satu saja & perintah Rasul maka kebinasaan akan menimpaku”.

3. Meninggalkan apa yg di larangnya tanpa ada sifat ragu.
Ada yg mengatakan: “0. . . hukum ini tidak ada dalam Al-quran” sebagaimana yg di lakukan oleh Inkaarus Sunnah.

Sesungguhnya As-Sunnah itu adalah menafsirkan & menjelaskan Al-Quran sebagaimana firman Allah ta’ala:
“& Kami turunkan kepadamu al-Quran, agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yg telah diturunkan kepada mereka supaya mereka memikirkan” (QS 16:44)

Dari Miqdam bin Ma’di Yakrib Rasululloh bersabda:
Ketahuilah bahwa aku di berikan Al Quran & sepertinya bersamanya (yaitu Assunah)”.

Salah satu contoh pentingnya As-Sunnah untuk memahami Al Quran:
Katakanlah: Siapakah yg mengharamkan perhiasan dari Allah yg telah di keluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya & (siapa pulakah yg rnengharamkan) rezeki yg baik. Katakanlah: Semuanya itu (disediakan) bagi orang-orang yg beriman dalam kehidupan dunia, khusus (untuk mereka saja) di hari kiamat. Demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi orang-orang yg mengetahui.” (QS 7:32)

4. Tidak beribadah kepada Allah melainkan dgn cara yg telah di syariatkan.
Allah telah menyempumakan agamanya, wahyu telah terputus & kenabian telah ditutup sebagaimana firman Allah:
Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu & telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku & telah Kuridhai Islam itu jadi agamamu“ (QS A1-Maidah:3)

5. Syahadat ini juga memiliki konsekuensi yaitu tidak meyakini bahwa nabi Muhammad memiiki sifat rububiyyah yg punya pengaruh di alam semesta & tidak berhak disembah.
Beliau hanyalah seorang hamba, seorang Rasul yg tidak didustakan & seorang hamba yg tidak mampu mendatangkan mamfaat atau menolak mudharat bagi dirinya atau orang lain kecuali atas izin & kehendak Allah.

Katakanlah: “Aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, & tidak (pula) aku mengetahui yg ghaib & tidak (pula) aku mengatakan kepadamu bahwa aku ini malaikat. Aku tidak mengikuti kecuali apa yg telah diwahyukan kepadaku. Katakanlah: “Apakah sama orang yg buta dgn orang yg melihat”. Maka apakah kamu tidak memikirkan(nya). (QS 6:50)

Hendaknya kita menempatkan nabi Muhammad pada kedudukan & martabat yg telah Allah berikan kepadanya yaitu sebagai hamba & utusan.

Semoga salawat & salam tetap tercurah kepadanya.

>>>Download artikel ini

Prinsip Ibadah yang Benar...

Sesungguhnya ibadah yg disyari’atkan oleh Allah SWT dibangun di atas landasan yg kokoh…

Pertama; Bahwa ibadah itu tauqifiyyah (artinya, tidak ada tempat sedikitpun bagi kreasi manusia di dalamnya) hanya Allah semata yg membuatnya.
- “Maka tetaplah engkau & orang yg telah taubat bersamamu pada jalan yg benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu & janganlah kalian melampaui batas” (QS Hud:112)
- “Kemudian Kami jadikan engkau berada di atas suatu syari’at dari urusan (agama), maka ikutilah syari’at itu & janganlah engkau mengikuti hawa nafsu orang-orang yg tidak mengetahui” (QS Al Jatsiyah:18)
- Dan firman Allah tentang Nabi-Nya: “… tidak lain aku hanyalah mengikuti apa yg diwahyukan …” (QS Qhaaf:9)
- “…Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu…” (QS Al Maa’idah:3).

Kedua; Ibadah yg tulus kpd Allah semata haruslah bersih dari noda-noda kesyirikan. Apabila sedikit saja dari kesyirikan bercampur dgn ibadah maka rusaklah ibadah itu.
- “Barangsiapa mengharap perjumpaan dgn Rabb-nya maka hendaklah ia mengerjakan amal saleh & janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kpd Rabb-nya” (QS Al Kahfi:110)
- “…seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan” (QS Al An’am:88)
- “Jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan terhapuslah amalmu & tentulah engkau termasuk orang-orang yg merugi. Karena itu, maka sembahlah Allah saja & jadilah engkau termasuk orang-orang yg bersyukur” (QS Az-Zumar:65-66).

Ketiga; Keharusan untuk menjadikan Rasulullah SAW sebagai teladan & pembimbing dalam ibadah.
- “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yg baik bagi kalian…” (QS Al Ahzaab:110)
- “…Apa yg diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yg dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah…” (QS Al Hasyr:7)
- “Barangsiapa melakukan suatu amalan yg tidak ada contohnya dari kami, maka amalannya tertolak” (HR Muslim)
- “Barangsiapa yg membuat sesuatu yg baru dalam agama, yg tidak dicontohkan, maka tertolak amalannya” (Muttafakun ‘Alaihi)
- “Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat” (Muttafakun ‘Alaihi)
· Dan masih banyak lagi nash-nash yg lainnya.

Keempat; Bahwa ibadah itu memiliki batas kadar & waktu yg tidak boleh dilampaui.
- “Sesungguhnya shalat kewajiban yg telah ditentukan waktunya” (QS An-Nissa:103)
- “(Musim) Haji adalah beberapa bulan yg dimaklumi” (QS Al Baqarah:185)
- “Bulan Ramadhan, bulan yg di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sbg petunjuk bagi manusia & …, maka hendaklah dia berpuasa pada bulan itu” (QS Al Baqarah:185)

Kelima; Keharusan menjadikan ibadah dibangun diatas kecintaan, ketundukan, ketakutan & pengharapan kepada Allah.
- “Orang-orang yg mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka siapa di antara mereka yg lebih dekat (kepada Allah) & mengharapkan rahmat-Nya & takut akan azab-Nya” (QS Al Israa:57)
- Dan firman Allah tentang Nabi-Nya: “…Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yg selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yg baik & mereka berdo’a kapada Kami dgn rasa harap & cemas. Dan mereka adalah orang-orang yg khusyu” (QS Al Anbiya:90)
- “Katakanlah: “Jika kalian (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku(Rasul), niscaya Allah mencintai & mengampuni dosa-dosa kalian”. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang…” (QS Aali ‘Imran:31-32)

Keenam; Bahwa ibadah tidaklah gugur kewajibannya pada manusia sejak baligh dalam keadaan berakal sampai meninggal dunia.
- “…dan janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan memeluk agama Islam” (QS Aali ‘Imran:103)
- “Dan sembahlah Rabb-mu sampai dating ajal kepadamu” (QS Al Hijr:99)
(Asy-Syaikh Shalih Bin Fauzaan Al Fauzaan)

Dalam hal din (ibadah): segala bentuk peribadatan pada dasarnya adalah terlarang & tertolak kecuali ada dalil shahih yang mensyari’atkannya serta dicontohkan oleh Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam.
Di luar hal ibadah: segala sesuatu hal adalah MUBAH & HALAL kecuali ada dalil yang meng-HARAM-kannya.


>>>Download artikel ini

Jadilah yang sedikit..!

Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah)*. [Q6.116]
*Seperti menghalalkan apa-apa yang telah diharamkan Allah dan mengharamkan apa-apa yang telah dihalalkan Allah; menyatakan bahwa Allah mempunyai anak…


It's Clear...
Sudah menjadi sunnatullah, umat Islam terpecah menjadi 73 golongan, sebagaimana sebelumnya umat Yahudi dan Nasrani terpecah menjadi tujuh puluh golongan lebih.

"... Dan demi Dzat Yang jiwaku ada ditangan-Nya, sungguh umatku akan terpecah menjadi 73 golongan, satu golongan akan masuk surga dan 72 lainnya (mampir dulu) ke neraka.” Rasulullah ditanya: “Siapa golongan yang selamat itu wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Al Jama’ah." (HR Ibnu Majah)

"... dan umatku akan terpecah-belah menjadi 73 golongan. Semuanya masuk (dulu) ke neraka, kecuali satu golongan.” Para sahabat bertanya: “Siapa mereka, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Siapapun yang berada di atas apa yang aku dan para sahabatku ada padanya." (HR Abu Dawud & At-Tirmidzi)

Ibnu Mas'ud meriwayatkan: "Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam membuat garis dengan tangannya lalu bersabda, 'Ini jalan Allah yang lurus'. Lalu beliau membuat garis-garis di kanan-kirinya, kemudian bersabda, 'Ini adalah jalan-jalan yang sesat tak satu pun dari jalan-jalan ini kecuali di dalamnya terdapat setan yang menyeru kepadanya'. Selanjutnya beliau membaca (Al-An'am 153), 'Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus maka ikutilah dia janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain) karena jalan-jalan itu menceraiberaikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan oleh Allah kepadamu agar kamu bertakwa.'" (HR Ahmad dan Nasa'i)

  • "... Sesungguhnya jika Engkau memberi tangguh kepadaku sampai hari kiamat, niscaya benar-benar akan aku (Iblis) sesatkan keturunannya (Adam as), kecuali sebahagian kecil." [Q17.62]
  • Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan Yang Maha Pemurah (Al Quran), kami adakan baginya syaitan (yang menyesatkan) maka syaitan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya. [Q43.36]
  • “Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kalian dijadikan-Nya satu umat (saja). Tetapi Allah akan menguji kalian terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlombalah berbuat kebajikan.” [Q5.48]

A Simple Line 2 Simple Questions...

A Simple Line & Two Simple Questions...
Klik di gambar untuk memperbesar!
Silahkan unduh dan sebarluaskan..!

Berita Umat...

Allah Azza Wa Jalla berkata:
Wahai anak cucu adam, letakkan tanganmu di dadamu, apa yang kau sukai untuk dirimu, kau harus juga menyukainya untuk orang lain.
Wahai anak cucu adam, tubuhmu lemah dan lisanmu ringan, hatimu angkuh. Wahai anak cucu adam, puncak tujuanmu adalah kematian, maka beramallah sebelum kematian itu mendatangimu.
Wahai anak cucu adam, Aku tidak menciptakan anggota tubuh tanpa menciptakan lebih dulu rezekinya.
Wahai anak cucu adam, kalau kau Ku-ciptakan buta, kau pasti menyesal tidak memiliki penglihatan. Kalau kau Ku-ciptakan tuli, kau pasti menyesal tidak memiliki penglihatan. Maka sadarilah besarnya kenikmatan yang Ku-berikan kepadamu, bersyukurlah kepada-Ku dan jangan ingkar kepada-Ku, karena kepada-Ku kau akan kembali.
Wahai anak cucu adam, apa yang telah Ku-bagikan kepadamu, janganlah kau bersusah payah mencarinya. Semua rezeki yang Ku-tetapkan bagimu akan mencari sehingga rezeki itu menemukanmu.
Wahai anak cucu adam, beramallah untuk dirimu sebelum datangnya kematian. Janganlah kau tertipu oleh kesalahan-kesalahan, karena kesalahan itu meninggalkan bekas yang jelas, dan janganlah kehidupan dan angan-angan panjang melalaikanmu dari tobat, karena pada akhirnya kau pasti menyesal ketika penyesalan itu tidak lagi bermanfaat bagimu.

Renungan!
Rasulullah SAW bersabda:
Sekiranya anak cucu Adam memiliki dua lembah emas niscaya dia tetap masih menginginkan lembah emas yg ketiga, & sekali-kali tidak akan penuh mulut anak cucu Adam kecuali tanah, & Allah menerima taubat bagi orang yg bertaubat”. (HR. Bukhari-Muslim)
Bila anak Adam memiliki segunung emas, ia akan menginginkan gunung yg kedua, & bila ia memiliki dua buah gunung emas, ia akan menginginkan yg ke tiga. Sampai pada akhirnya, bagaimanapun juga, tidak ada yg memenuhi mulut anak Adam (dan mengakibatkan ia terdiam) kecuali tanah (dari kuburannya), Allah memberikan ampunan bagi siapa saja yang bertaubat, & Dia mengampuni siapa saja yg dikehendakinya.

Senin, Maret 3

Meniti Jalan Istiqomah

Kaum muslimin rahimakumullah, di dalam kehidupan manusia, Allah telah menetapkan jalan yang harus ditempuh oleh manusia melalui syariat-Nya sehingga seseorang senantiasa Istiqomah dan tegak di atas syariat-Nya, selalu menjalankan perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya serta tidak berpaling ke kanan dan ke kiri. Allah ta’ala telah memerintahkan orang-orang yang beriman untuk senantiasa istiqamah.

Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Robb kami ialah Allah”, kemudian mereka tetap beristiqomah, maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita, mereka itulah penghuni-penghuni surga, mereka kekal di dalamnya; sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan (di dunia)” (QS 46: 13-14).

Akan tetapi bagaimana pun juga seorang hamba tidak mungkin untuk senantiasa terus dan sempurna dalam istiqomahnya. Terkadang seorang hamba luput dan lalai yang menyebabkan nilai istiqomah seorang hamba menjadi berkurang. Oleh karena itu, Allah memberikan jalan keluar untuk memperbaiki kekurangan tersebut yaitu dengan beristigfar dan memohon ampun kepada Allah ta’ala dari dosa dan kesalahan. Allah ta’ala berfirman yang artinya, Maka beristiqomahlah (tetaplah) pada jalan yang lurus menuju kepada Allah dan mohonlah ampun kepada-Nya”. (QS 41: 6). Di dalam al-Qur’an maupun Sunnah telah ditegaskan cara-cara yang dapat ditempuh oleh seorang hamba untuk bisa meraih istiqomah. Cara-cara tersebut adalah sebagai berikut:

Pertama, memahami dan mengamalkan dua kalimat syahadat dengan baik dan benar. Allah Ta’ala berfirman, “Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ‘ucapan yang teguh’ dalam kehidupan di dunia dan di akhirat” (QS 14 : 27). Makna “ucapan yang teguh” adalah dua kalimat syahadat. Sehingga, Allah akan meneguhkan orang yang beriman yang memahami dan mengamalkan dua kalimat syahadat ini di dunia dan di akhirat.

Kedua, membaca al-Qur’an dengan menghayati dan merenungkannya. Allah berfirman yang artinya, “Katakanlah: ‘Ruhul Qudus (Jibril) menurunkan al-Quran itu dari Robb-mu dengan benar, untuk meneguhkan (hati) orang-orang yang beriman, dan menjadi petunjuk serta kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri (kepada Allah).” (QS 16: 102).

Ketiga, berkumpul dan bergaul di lingkungan orang-orang saleh. Hal ini sangat membantu seseorang untuk senantiasa istiqomah di jalan Allah ta’ala. Teman-teman yang saleh akan senantiasa mengingatkan kita untuk berbuat baik serta mengingatkan kita dari kekeliruan. Bahkan dalam al-Qur’an disebutkan bahwa hal yang sangat membantu meneguhkan keimanan para sahabat adalah keberadaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Allah berfirman yang artinya, “Bagaimana mungkin (tidak mungkin) kalian menjadi kafir, sedangkan ayat-ayat Allah dibacakan kepada kalian, dan Rosul-Nya pun berada di tengah-tengah kalian? Dan barang siapa yang berpegang teguh kepada (agama) Allah maka sesungguhnya dia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (QS 3: 101)

Keempat, berdoa kepada Allah ta’ala agar Dia senantiasa memberikan kepada kita istiqomah hingga akhir hayat. Bahkan Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha mengatakan bahwa doa yang paling sering dibaca oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah doa, “Yaa muqollibal qulub tsabbit qolbi ‘ala diinik ” artinya “Wahai Zat yang membolak-balikkan hati teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.” (HR. Tirmidzi, Ahmad, Hakim, dishahihkan oleh Adz Dzahabi, lihat pula Shahihul Jami’)

Kelima, membaca kisah Rasulullah, para sahabat dan para ulama terdahulu untuk mengambil teladan dari mereka. Dengan membaca kisah-kisah mereka, bagaimana perjuangan mereka dalam menegakkan diinul Islam, maka kita dapat mengambil pelajaran dari kisah tersebut sebagaimana firman Allah ta’ala yang artinya, “Dan semua kisah dari rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu; dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman.” (QS 11: 120)

Kaum muslimin rahimakumullah demikianlah sedikit yang dapat kami sampaikan sebagai renungan bagi kita semua untuk meniti jalan istiqomah. Semoga Allah ta’ala memberikan keteguhan kepada kita untuk senantiasa menjalankan syariat-Nya hingga kelak kematian menjemput kita semua. Amiin ya Mujibbassaailiin.

[Diringkas dari penjelasan Hadits Arba'in No. 21 yang ditulis oleh Ustadz Abdullah Taslim, Lc.]

Penulis: Amrullah Akadhinta www.muslim.or.id

Baca Juga: Kiat Agar Tetap Istiqamah

Sabtu, Februari 2

Diam adalah Perak (bukan Emas)

Ada kata mutiara yg berbunyi "diam adalah emas". Apakah kata mutiara ini memang kata "mutiara"? Sebagai seorang muslim tentulah landasan yg paling valid yg harus kita pakai sebagai referensi adalah kitabullah (Al-Quran) & sunnah (yg diketahui dari hadist) Nabi saw. Apa yg hadist katakan tentang “diam” berikut sedikit uraiannya.

Nabi saw bersabda, “Barang siapa beriman kepada Allah & hari akhir, maka hendaklah ia berbuat baik kepada tetangganya. Barang siapa beriman kepada Allah & hari akhir, maka hendaklah ia memuliakan tamunya. Barang siapa yang beriman kepada Allah & hari akhir, maka hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” [HR Muslim]

Pada hadist riwayat Imam Bukhari di atas, Nabi saw menganjurkan kita agar berusaha untuk melakukan "berkata benar" terlebih dahulu (posisi emas), jika tidak bisa maka barulah "diam" dijadikan pilihan selanjutnya (posisi perak). Inilah makna Nabi saw menyebutkan terlebih dahulu fal yaqul khoiro (berkata yg benar) ketimbang yashmut (diam). Di sinilah seorang muslim dituntut untuk membiasakan diri mempertimbangkan kemanfaatan ucapannya sebelum mulutnya terbuka. Jika dirasa lebih bermanfaat maka hendaklah mengatakannya sedangkan jika kesia-siaan atau kemudharatnya lebih besar ketimbang manfaatnya hendaklah menahan lisannya atau diam.

"Sebaik-baik manusia diantaramu adalah yg paling banyak mamfaatnya bagi orang lain." [HR Bukhari & Muslim]

"Merupakan tanda baiknya Islam seseorang, dia meninggalkan sesuatu yg tidak berguna baginya." [HR Tirmidzi]

"Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran, hendaklah ia mengubahnya dg tangannya. Jika tidak bisa melakukannya dg tangannya, hendaklah ia mengubahnya dg lisannya. Jika tidak bisa melakukannya dg lisannya, hendaklah ia melakukan dg hatinya. Itulah iman yg paling lemah." [HR Muslim]

>>>Download artikel Keutamaan Menjaga Lisan (Lidah tak Bertulang) & Buah Menjaga Lisan...